Stok Beras Bulog Praya 1700 Ton, Aman hingga Maret 2024
PRAYA-Kondisi musim kemarau di tahun 2023 ini rupanya tidak berdampak pada hasil panen petani di wilayah Kabupaten Lombok Tengah. Hal ini berdampak pada capaian stok beras yang dimiliki oleh Bulog Praya. Melihat dari stok beras yang tersimpan digudang Bulog Praya, diperkirakan stok beras yang ada cukup untuk kebutuhan masyarakat Kabupaten Lombok Tengah hingga bulan Maret tahun 2024 mendatang.
Asisten Manager Mutu Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) NTB, L. Irpan Saputra saat berada di Perum Bulog Praya Lombok Tengah menyatakan, pihaknya membenarkan di gudang Perum Bulog saat ini tersimpan stok beras berjumlah sekitar 1700 ton. Ketersediaan stok beras ini cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Lombok Tengah hingga nanti di bulan Maret tahun 2024 mendatang. “Stok beras yang ada di gudang kita cukup hingga awal tahun depan,” ungkapnya.
Dengan jumlah stok beras yang ada di gudang saat ini, masuk dalam kategori NTB dan Loteng surplus beras. Stok beras yang surplus ini bukan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saja, melainkan stok beras ini juga cukup untuk memenuhi kebutuhan bantuan Pemerintah melalui dinas tertentu. “Kita tahun 2023 ini mengalami surplus beras,” ujarnya.
Jumlah stok beras yang ada tersimpan di gudang saat ini, merupakan jumlah sisa beras setelah dilakukannya operasi pasar dibeberapa titik. Kendati demikian, dengan stok beras yang ada Perum Bulog masih berharap untuk bisa melakukan operasi pasar untuk menetralisir harga beras yang masih tergolong tinggi saat ini. Selama ada pemintaan, Perum Bulog siap untuk memback-up pihak manapun jika membutuhkan untuk dilakukan operasi pasar selama memenuhi syarat. “Stok kita surplus, dengan itu kita kapanpun dibutuhkan melakukan operasi pasar kita siap,” imbuhnya.
Selain itu, rupanya Perum Bulog tidak hanya sebagai BUMN yang membabck-up kebutuhan masyarakat Loteng bahkan NTB saja. Melainkan karena mengalami surplus beras, bahkan beras yang ada juga bisa sampai membac-up kebutuhan masyarakat yang ada di Provinsi Bali dan NTT. Bahkan pernah juga stok beras yang ada juga mengatasi kebutuhan masyarakat yang ada di Provinsi Sumatera, Medan, DKI, Kalimantan, Sulawesi dan Manado. “Hampir setiap tahun kami mengekspor kebutuhan beras Provinsi lain di sekitar NTB bahkan Indonesia,” katanya.
Sementara, untuk serapan beras tahun 2023 ini jumlahnya menurun dibandingkan serapan di tahun 2022 kemarin. Jumlah ini menurun akibat petani saat ini lebih memilih menjual padi giling mereka ke pihak lain akibat nilai jual lebih tinggi daripada harus menjual ke Perum Bulog. Dimana Perum Bulog hanya menerima serapan beras petani, sisa dari yang terjual ke pihak tertentu seperti pengepul beras. “Jumlah serapan kita menurun akibat nilai beli kita yang lebih murah dari pada nilai jual ke pihak lain,” ujarnya.
Nilai serap Perum Bulog saat ini dalam satu kilogramnya adalah Rp9.950. Sementara nilai jual ke pasaran satu kilogramnya adalah Rp10.900. “Itu yang menjadi alasan petani menjual ke pihak lain kenapa tidak ke Perum Bulog,” terangnya.
Kendati demikian, pihaknya tetap akan terus berusaha untuk bisa menyerap seluru beras petani berapapun jumlahnya. Keputusan ini dilakukan demi agar Perum Bulog mengalami surplus beras, untuk bisa menutupi kebutuhan beras masyarakat NTB bahkan untuk kebutuhan provinsi lain di Indonesia. “Selama Petani mau menjual kami siap untuk menyerap,” paparnya.(wid)



