Dugaan MBG Basi di Bunkate, Bentuk Lemahnya Pengawasan?

LOMBOK TENGAH – Pengaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan (SPPG) di Desa Bunkate, Jonggat Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) diduga dalam keadaan tidak layak konsumsi atau basi.
Dugaan tersebut ditemukan setelah salah satu wali murid melayangkan protes kepada dapur penyedia MBG.
Dari ratusan porsi yang disiapkan, sejumlah MBG terpaksa tidak bisa dikonsumsi karena aroma dan kondisi makanan yang tidak layak.
“Lauk MBG basi, sudah dua kali,” kata salah satu wali murid di Desa Bunkate.
Atas kejadian tersebut, Mitra SPPG atau pemilik dapur malah mencoba membungkam media dengan permintaan untuk tidak memberitakan kejadian distribusi MBG yang diduga basi tersesbut.
“Kami dari yayasan Abulbarikat melakukan ini bukan unsur kesengajaan ini kekhilafan kami. Maka kami minta untuk jangan naikkan ke berita apalagi mau di videokan. supaya Dapur MBG kami tidak cedera di mata publik,” kata Pemilik Dapur, Pathul saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, basinya menu pada MBG tersebut disebabkan karena masakan kurang matang yang memicu MBG menjadi agak basi.
“Kami tidak memungkiri semua itu, tapi dari tiga bulan kami operasi baru kali ini terjadi. ini manusia artinya kesalahan ini tidak berkali-kali tapi baru kali ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPI Bunkate, Miftah Nurjannah membenarkan informasi lauk MBG yang basi tersebut. Ia mengatakan telah menindaklanjuti dengan meninjau langsung ke sekolah-sekolah penerima paket yang dinilai tidak layak konsumsi.
“Kami langsung meninjau ke sekolah-sekolah. Sejauh ini tidak ada keluhan dari pihak sekolah,” katanya.
Sementara itu, terkait informasi lauk yang sudah basi dirinya mengatakan akan menjadikannya bahan evaluasi untuk SPPG Bunkate kedepannya.
“Terkait menu lauk yang basi, kami menyampaikan permohonan maaf. Hanya beberapa saja, tidak semua lauk basi dan itu baru kali ini saja terjadi. Dan ini akan menjadi bahan evaluasi kami juga kedepannya terkait lauk yang akan kami sediakan,” katanya.
Menurutnya, menu baru yang coba SPPG Bunkate sajikan kepada penerima manfaat. Selain itu, dirinya juga sudah memastikan bahwa proses penyiapan dan penyajiannya sudah sesuai dengan SOP yang ada.
“Ini bagian dari usaha kami menyajikan menu yang berpariatif agar tidak bosan. Kami juga telah bekerja dan menyiapkan dengan sebaik-baiknya serta sesuai prosedur yang ada,” tandasnya.
Kejadian penyaluran MBG yang siduga basi tersebut pun disebut tidak bisa dianggap sepele. “Penyaluran MBG yang diduga basi merupakan persoalan yang serius dan tidak boleh dianggap sepele,” ungkap Ketua LI TIPIKOR NTB, Sapari (31/01).
Ia mengatakan Program MBG merupakan program negara yang menyangkut hak dasar dan keselamatan anak-anak. Jika makanan yang dibagikan diduga basi dan tidak layak konsumsi, itu bukan sekadar kekhilafan, tetapi bentuk kelalaian serius yang harus dipertanggungjawabkan.
Sapari juga menyoroti sikap mitra dapur yang justru meminta media untuk tidak mempublikasikan kejadian tersebut. “Permintaan agar wartawan tidak menaikkan berita adalah sikap yang keliru dan berbahaya. Ini menyangkut uang negara dan kepentingan publik. Tidak boleh ada upaya membungkam informasi atau menutup-nutupi persoalan yang berdampak pada kesehatan anak-anak,” lanjutnya.
Menurutnya, alasan baru kejadian pertama kali tidak dapat dijadikan pembenaran. Kalau memang SOP dijalankan dengan benar, hal tersebut tidak akan terjadi dan makanan basi bisa lolos hingga dibagikan ke sekolah.
“Ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan kontrol kualitas. Aparat terkait harus turun tangan dan melakukan audit menyeluruh,” ujarnya.
Sapari menegaskan, pihaknya akan mengawal kasus tersebut sampai tuntas. “Jika ditemukan unsur kelalaian berat, penyimpangan SOP, atau potensi pelanggaran hukum, LI TIPIKOR akan melaporkannya secara resmi ke aparat penegak hukum,” pungkas Sapari.



