Pariwisata

ITDC Bentuk Paguyuban Pedagang Asongan KEK Mandalika

PRAYA-Pedagang asongan yang menjadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika sebagai tempat berusaha, saat ini menjadi fokus perhatian pengelola kawasan. Salah satu upaya yang saat ini sedang dilakukan pengelola kawasan, dalam hal ini PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) perusahaan member InJourney Group, yakni melakukan kerja sama dengan Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI). Di mana yayasan ini dikenal sebagai salah satu yayasan yang bergerak di bidang pembangunan berkelanjutan khususnya dalam pemenuhan hak anak dan pengembangan masyarakat.

General Manager The Mandalika Molin Duwanno, membenarkan bahwa pedagang asongan di dalam KEK harus dicarikan solusi terbaik terutama dalam hal peningkatan penghasilan. Bekerja sama dengan salah satu yayasan yang bergerak di bidang pengembangan usaha masyarakat menjadi solusi terbaik yang ditempuh oleh pengelola kawasan. “Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) kami harapkan mampu untuk menjadi solusi pedagang asongan,” ungkapnya.

Kerja sama ini diawali dengan proses assessment peserta dan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan koordinator pedagang asongan, Pemerintah desa penyangga yaitu Desa Rembitan dan Desa Kuta, serta anak-anak pedagang asongan sekitar Kuta Beach Park. Kegiatan ini diselenggarakan kemarin pada 12-13 September 2023. Hasil yang didapatkan dari kegiatan tersebut adalah komitmen bersama untuk membentuk Paguyuban Pedagang Asongan yang legal dan berbadan hukum. “Dimana paguyuban Pedagang Asongan yang akan dibentuk ini berfungsi sebagai wadah koordinasi dan advokasi bagi para pedagang asongan di kawasan The Mandalika,” sambungnya.

Kerja sama ini adalah Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ITDC yang bernama Program Pembentukan Pusat Belajar Anak & Pembinaan Pedagang Kaki Lima di Bazaar Mandalika dan Kuta Beach Park. “Kami berkomitmen untuk mendukung perkembangan ekonomi lokal, memastikan kesejahteraan para pedagang asongan, dan menjaga integrasi kawasan The Mandalika. Dalam pembentukan paguyuban ini, kami selaku pengelola kawasan The Mandalika akan berperan aktif untuk membantu para pedagang asongan dalam berbagai hal, mulai dari pendataan hingga advokasi untuk penertiban pedagang asongan,” jelasnya.

Dengan terbentuknya Paguyuban Pedagang Asongan ini akan memberikan dampak positif dengan fungsi yang dijalankan seperti pendataan pedagang asongan, penyampaian informasi dari stakeholders, menyampaikan aspirasi pedagang asongan, advokasi penertiban pedagang asongan, pengawasan pedagang asongan anak-anak dan advokasi perlindungan anak di kawasan The Mandalika. Selain itu, paguyuban akan merumuskan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh semua pedagang asongan yang terdaftar dalam asosiasi ini. Salah satu persyaratan penting adalah bahwa semua pedagang asongan yang ingin bergabung dalam paguyuban harus memiliki kartu identitas yang sah. “Para pedagang asongan yang berpartisipasi dalam FGD juga telah menekankan pentingnya legalitas dan badan hukum bagi paguyuban ini. Hal ini akan memberikan paguyuban kekuatan yang lebih besar untuk mengatur anggotanya, menjadikan mereka sebagai entitas yang sah dan diakui oleh pihak berwenang,” ujarnya.

Pada hari ini Kamis (21/09), kegiatan dilanjutkan dengan sesi assessment peserta dari anak-anak pedagang asongan di Kawasan The Mandalika, yang mayoritas berjualan di malam hari. Assessment dilakukan dengan edukasi dan metode bermain bersama yang dipandu oleh seorang pengajar sekaligus psikolog anak. Kegiatan ini memberikan pendidikan dan pengalaman bermain yang bermanfaat bagi anak-anak tersebut, dengan tujuan untuk memberikan dukungan psikologis dan emosional, sekaligus mengajak anak-anak untuk ikut aktif di pusat belajar, serta membantu mereka dalam perkembangan sosial dan kesejahteraan.

Pusat kegiatan belajar anak (child learning centre) yang dibentuk akan menjadi tempat bagi anak-anak pedagang asongan untuk belajar dan bermain, sehingga fokus mereka tidak hanya berdagang. Child learning centre menyediakan kegiatan pelatihan literasi, pembentukan pojok baca, pelatihan bahasa Inggris dan juga kegiatan lain yang dapat menunjang pendidikan anak-anak pedagang asongan. “Hal ini adalah langkah positif dalam mendukung pengembangan kawasan The Mandalika yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan adanya paguyuban ini, diharapkan pedagang asongan dapat lebih sejahtera dan terlindungi, sementara kawasan The Mandalika akan terus berkembang menjadi destinasi pariwisata yang menarik,” paparnya.(wid)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button