Ekonomi dan Bisnis

Pemkab Lombok Tengah Catat Tren Positif Penurunan Angka Kemiskinan dan Perbaikan Kesejahteraan Tahun 2026

LOMBOK TENGAH – Persentase penduduk miskin di Kabupaten Lombok Tengah pada tahun 2026 mengalami penurunan signifikan menjadi 10,34 persen, atau mencakup sekitar 106,82 ribu jiwa. Angka ini lebih rendah dibandingkan catatan tahun 2025 yang berada di level 10,68 persen.

​Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), capaian ini menempatkan Kabupaten Lombok Tengah pada peringkat ketiga dengan persentase penduduk miskin terendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), berada di bawah Kota Mataram dan Kota Bima.

​Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Perencanaan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Lombok Tengah, Taufikurrahman Pua Note, S.Sos., M.AP., menyampaikan bahwa tren penurunan tersebut menjadi indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan dan efektivitas program peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.

​“Penurunan persentase penduduk miskin di Lombok Tengah dari 10,68 persen pada 2025 menjadi 10,34 persen pada 2026 merupakan perkembangan positif dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Capaian ini menjadi salah satu indikator bahwa upaya pengentasan kemiskinan perlu terus diperkuat melalui program pembangunan yang terarah dan berkelanjutan,” ujar Taufikurrahman di Praya, Senin (26/10/2026).

​Perbaikan Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan

​Selain penurunan dari sisi jumlah dan persentase, perbaikan kualitas kesejahteraan juga tercermin pada indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan di Lombok Tengah.

​Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,15 pada Maret 2025 menjadi 1,05 pada Maret 2026.

​Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,31 menjadi 0,18 pada periode yang sama.

​Penurunan kedua indikator tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin kian mendekati garis kemiskinan, serta kesenjangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin menyempit.

​“Kita tidak hanya melihat kemiskinan dari sisi jumlah dan persentase penduduk miskin, tetapi juga dari kedalaman dan keparahannya. Penurunan Indeks Kedalaman Kemiskinan dari 1,15 menjadi 1,05 serta Indeks Keparahan Kemiskinan dari 0,31 menjadi 0,18 menunjukkan adanya perbaikan pada kedua indikator tersebut,” terang Taufikurrahman.

​Garis Kemiskinan dan Komoditas Makanan Dominan

​Kendati menunjukkan tren positif, upaya pengentasan kemiskinan masih menyisakan tantangan yang memerlukan perhatian bersama. Garis Kemiskinan Kabupaten Lombok Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp618.843 per kapita per bulan, mengalami peningkatan sebesar 8,78 persen dibandingkan periode Maret 2025 yang berada di angka Rp568.910 per kapita per bulan.

​Komoditas makanan masih memberikan kontribusi dominan terhadap Garis Kemiskinan, yakni sekitar 75,85 persen. Kondisi ini menegaskan pentingnya langkah strategis dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat, memperkuat jaring pengaman sosial, serta mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif yang merata.

​Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah berkomitmen untuk terus mengoptimalkan sinergi lintas sektor, meliputi perluasan program perlindungan sosial, pengembangan ekonomi kerakyatan, hingga percepatan pemenuhan infrastruktur dasar guna mendongkrak kualitas hidup masyarakat.

​“Tantangan ke depan adalah memastikan agar penurunan angka kemiskinan dapat terus berlanjut dan dirasakan secara merata oleh masyarakat. Karena itu, diperlukan sinergi lintas sektor, optimalisasi program perlindungan sosial, penguatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, serta pemenuhan infrastruktur dasar agar kebijakan yang dilaksanakan benar-benar berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat,” tutup T aufikurrahman.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button