Lombok

Polemik Dapur MBG Kopang: Warga Tercekik Bau, Pengelola Sebut Cuma ‘Human Error

LOMBOK TENGAH – Bau menyengat dari limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Kajanan di Desa Kopang Rembiga Kecamatan Kopang mengusik warga sekitar.

Pihak SPPG menyatakan bau menyengat dari limbah MBG disebabkan oleh human error. Pemasangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilakukan pihak mitra SPPG pada 30 maret 2026 lalu, belum mampu menghilangkan bau tajam akibat limbah tersebut.

Kepala SPPI Kajanan Kopang Rembiga, Lalu Roby Gunawan menerangkan, penyebab bau menyengat tersebut akibat lupa ditutupnya pipa pada IPAL tersebut.

“Penyebab bau tidak sedap yang timbul adalah human error, ada bagian pada instalasi yang lupa ditutup oleh petugasnya,” jelasnya (21/04).

Dari kejadian tersebut, Ia menjelaskan, pihak mitra SPPG yakni Yayasan Depot Rintan Catering berkomitmen untuk melakukam perbaikan.

Ia mengatakan, selain perbaikan IPAL, pihak mitra juga berupaya melakukan pembenahan terkait beberapa tuntunan masyarakat kampung Kajanan. “Ada komitmen mitra untuk perbaikan terhadap IPAL dan beberapa keluhan warga, terkait suar bising kami juga sedang dipersankan peredam untuk mengirangi kebisingan,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, saat ini aktivitas dapur dihentikan sementara karena sedang melakukan perbaikan. “Dapur tersebut akan beroprasi kembali jika sudah di ACC pusat,” tandasnya.

Sebelumnya, bau tidak sedap dari dapur MBG tersebut memancing aksi protes dari warga Kampung Kajanan Dusun Kopang I Desa Kopang pada Minggu malam 19 April 2026 sekira pukul 20.00 Wita.

Puluhan warga sekitar mendatangi dapur SPPG Kajanan karena sudah tidak tahan akibat bau limbah yang menyengat dan mengganggu masyarakat sekitar.

“Kami selaku warga sudah tidak tahan dengan bau limbah yang ditimbulkan oleh dapur MBG tersebut,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya (21/04).

Ia mengatakan, selain bau tidak sedap, aktivitas dapur yang dilakukan malam hari menimbulkan suara bising yang mengakibatkan warga tidak dapat beristirahat dengan tenang.

“Lokasi dapur MBG yang berdempetan dengan rumah warga kerap menimbulkan suara bising padahal di sebelah dapur tersebut ada orang tua jompo yang memerlukan istirahat yang cukup,” ujarnya.

Ia menyebut, lokasi dapur yang di tengah pemukiman sangat tidak refresentatif. Warga juga mengeluhkan komdisi jalan masuk kampung yang sempit juga digunakan kendaraan SPPG parkir sehingga mengganggu pengguna jalan warga setempat.

“Warga beberapa kali menyampaikan keluhan ke pemilik dapur, namun kami menilai pemilik dapur tidak mengindahkan permintaan warga dan tidak punya iktikad baik,” sambungnya.

Akibatnya, Warga menuntut Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen SPPG yang beroprasi kembali setelah sempat ditutup sementara beberapa waktu lalu.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button